Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Tahapan Pembuatan Iklan



Menurut Haris Budi, Senior Art Director BBDO Komunika, tahapan pembuatan iklan:

1)      Pemilik produk yang akan dibuatkan iklan menghubungi perusahaan agency.
2)      Kedua pihak lalu merumuskan materi yang akan disesuaikan dengan target pasar yang ingin dicapai untuk sebuah produk film iklan.
3)      Adanya script-writing, naskah cerita, serta dilakukan pengetesan konsep.
4)      Mencari perusahaan rumah produksi (production house) untuk membuat film iklan.

Dalam proses pembuatan film iklan, tiga pihak agency, PH, dan perusahaan yang ingin dibuatkan produk film iklan senantiasa berembuk, mendiskusikan masalahmasalah yang ada. Termasuk mencari sutradara yang mengatur pembuatan film iklan.

Pengertian Budget biaya penjualan (Selling Expenses Budget)


Budget biaya penjualan (Selling Expenses Budget) ialah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang biaya-biaya yang terjadi serta terdapat di dalam lingkungan bagian penjualan, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh bagian penjualan, yang di dalamnya meliputi rencana tentang jenis biaya penjualan, jumlah biaya penjualan dan waktu biaya penjualan tersebut terjadi dan dibebankan, yang masing-masing dikaitkan dengan tempat (departemen) dimana biaya penjualan tersebut terjadi.
Beberapa bagian (departemen) yang biasanya dipergunakan oleh perusahaan, antara lain:
1.      Bagian promosi
Yang menangani urusan kegiatan promosi, baik dengan periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), kontak penjualan pribadi (personal selling) maupun dengan publisitas (publicity). Pembuatan iklan di perusahaan kecil sering ditangani oleh orang di departemen pemasaran atau penjualan yang bekerjasama dengan biro iklan, sedangkan perusahaan besar sering membentuk departemen periklanannya sendiri. (M.Suyanto,2005). 
2.      Bagian transaksi
Yang menangani urusan transaksi dengan para pembeli atau pelanggan.

3.      Bagian Ekspedisi (transportasi)
Yang menanggani urusan pengiriman barang-barang yang terjual ke tempat pembeli.
4.      Bagian Purna Jual
Yang menangani urusan pelayanan purna jual.
5.      Bagian Pengembangan dan Penelitian Pasar

Yang menangani urusan penelitian-penelitian pasar, baik penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif, untuk kepentingan peningkatan penjualan. 

Saluran Komunikasi Non-Personal


Umumnya menggunakan media seperti media cetak (koran, majalah, direct mail), media siaran (radio, televisi), media elektronik (kaset audio, video, CD-ROM, halaman web), dan media display (baliho, papan iklan, sign, poster), dan sebagian besar pesan non-personal berasal dari media yang harus dibayar perusahaan (paid media). 
Masing-masing media tersebut memiliki keungulan dan kelemahan, diantaranya:
1.      Media Surat Kabar 
a.       Kapabilitas persuasif Surat Kabar
§  Mampu menjangkau audiens yang luas.
§  Efektif untuk menjangkau wilayah lokal.
§  Fleksibel.
§  Kemungkinan mendapat umpan balik lebih cepat, dan sebagainya
b.      Keterbatasan Surat Kabar § Tidak selektif.
§  Pesan hanya untuk waktu jangka pendek.
§  Cluster.
§  Biaya bervariasi tergantung ukuran iklan dan sirkulasi.
2.      Media Majalah
a.       Kapabilitas persuasif Majalah § Sangat selektif.
§  Sangat mungkin ditujukan untuk kelompok tertentu.
§  Produksi berkualitas tinggi.
§  Kredibilitas tinggi.
§  Pesan berjangka panjang.
§  High pass along rate.
b.      Keterbatasan Majalah § Perputaran cukup lama.
§  High cluster.
§  Umpan balik tidak langsung dan cukup lama.
§  Harga bervariasi tergantung sirkulasi dan selektifitas.


3.      Media Televisi
a.       Kapabilitas persuasif Televisi
§  Kemungkinan menjangkau audiens yang luas.
§  Appeals to many senses.
§  Kemungkinan mnarik dan menggugah emosi cukup tinggi.
§  Kemungkinan didemonstrasikan.
§  Secara keseluruhan biaya tinggi.
§  Biaya per kontak rendah.
b.      Keterbatasan Televisi § Jangka panjang.
§  High Cluster.
§  Pesan jangka pendek.
§  Pemirsa dapat menolak eksposur menggunakan zapping.
§  Day-after recall test for feedback
4.      Media Radio
a.       Kapabilitas persuasif Radio
§  Selektifitas geografis dan demografis.
§  Short lead time.
§  Relatif murah.
§  Sangat baik untuk lokal.
b.      Keterbatasan Radio § Eksposur jangka pendek.
§  Hanya audio/suara.
§  High cluster.
§  Zapping posibleI.
§  Delayed feedback through day-after recall test.
5.      Media Internet
a.       Kapabilitas persuasif Internet
§  Berpotensi untuk menseleksi audiens.
§  Customized tracking possible and other feedback tools possible.
§  Bermanfaat untuk menguatkan merek dan pesan.
§  Very high cluster. § Zapping possible.
§  Harga sangat bervariasi.
§  Konsern terhadap privasi.
6.      Media Direct Mail
a.       Kapabilitas persuasif Direct Mail § Sangat selektif.
§  Kemungkinan personalisasi sangat besar.
§  Novel, interesting stimuli possible.
§  Low cluster.
b.      Keterbatasan Direct Mail
§  Dipersepsikan sebagai surat-surat tidak berguna.
§  Feeback possible through response.
§  Biaya tinggi per kontak.
7.      Media Direct Marketing
a.       Kapabilitas persuasif Direct Marketing § Pengembangan database.
§  Audiensnya sangat selektif. § Relatively free of cluster.
b.      Keterbatasan Direct Marketing § Sangat privasi.
§  Respon dapat diukur.
§  Biaya per inquiry, biaya per sale, revenue per iklan dapat dihitung.

Atmosfir adalah “lingkungan yang dikemas” yang dapat menciptakan atau memperkuat kecenderungan pembeli untuk membeli produk. Kantor-kantor hukum terkenal dengan dekorasi permadani oriental dan mebel kayu jati untuk mengkomunikasikan “kesuksesan” dan “stabilitas”.
Event merupakan peristiwa-peristiwa yang dirancang untuk mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu pada audiens sasaran. Bagian humas mengatur konferensi pers, peluncuran produk, grand opening, dan pensponsoran olahraga untuk merengkuh efek komunikasi khusus pada audiens sasaran.
Walaupun komunikasi personal lebih efektif daripada komunikasi massa, media massa tetaplah saran utama yang dapat menggerakkan komunikasi personal. Komunikasi massa mempengaruhi sikap dan perilaku pribadi melalui proses komunikasi dua tahap. Aliran dua tahap ini mempunyai beberapa implikasi :
Pertama, pengaruh media massa pada opini masyarakat tidak terjadi secara langsung, kuat dan otomatis sebagaimana selama ini diasumsikan. Ini dikarenakan adanya mediasi pendapat oleh pembentuk opini, orang yang biasanya dimintai pendapat atau yang selalu menyebarkan opininya kepada orang lain. Kedua, teori ini juga menentang asumsi untuk mengatakan bahwa gaya konsumsi dipengaruhi khususnya oleh efek “trickle-down” atau “trickle-up” dari media massa. Ketiga, komunikasi dua tahap menyarankan agar komunikator massa sebaiknya mengarahkan pesan secara khusus pada pembentuk opini dan membiarkan mereka menyebarkannya pada orang lain.

Para pakar komunikasi melihat masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang anggotanya cenderung berinteraksi. Tantangannya adalah harus menciptakan sistem yang lebih terbuka sehingga terjalin pertukaran informasi dalam masyarakat. Keterbukaan ini dibantu oleh seseorang yang berfungsi sebagai liaison dan bridge. Seorang liaison adalah orang yang menghubungkan dua kelompok atau lebih tanpa harus bergabung dalam salah satu kelompok. Sedangkan bridge adalah orang yang tergabung dalam satu kelompok dan terkait dengan orang lain dari kelompok lain. 

Saluran Komunikasi Personal


Secara garis besar, saluran komunikasi dibagi 2, yaitu personal dan nonpersonal. Saluran komunikasi personal meliputi dua orang atau lebih yang berkomunikasi langsung secara tatap muka antara pembicara dengan audiensnya, mengunakan telepon ataupun e-mail. Komunikasi personal dapat lebih efektif dengan adanya peluang untuk mengindividualisasikan penyampaian pesan dan umpan baliknya.
Pembedaan lebih lanjut dapat diterapkan pada saluran komunikasi pendukung, pakar, dan sosial. Saluran pendukung terdiri dari wiraniaga yang menghubungi pembeli pada pasar yang dibidik. Saluran pakar mencakup para ahli independen yang membuat pernyataan dan ditujukan kepada calon pembeli. Saluran sosial meliputi, tetangga, teman, anggota keluarga dan kenalan yang berkomunikasi dengan pembeli sasaran. Banyak orang bersedia mencoba produk baru karena faktor pertemanan ataupun kerabat.
Pengaruh personal sangat menentukan khususnya bila produknya sangat mahal, jarang dibeli, dan beresiko. Pembeli cenderung mencari informasi secara aktif. Situasi lainya yaitu kalau produknya terkait dengan masalah selera atau status pemakai. Pembeli akan berkonsultasi dahulu untuk menghindari rasa malu.
Perusahaan dapat mengambil langkah-langkah tertentu agar memancing pengaruh pribadi dapat bekerja sesuai dengan keinginan mereka, yaitu dengan cara :
§  Mengidentifikasikan tokoh dan perusahaan berpengaruh dan memusatkan upaya pada mereka.
§  Menciptakan pembentuk opini dengan cara memasok produk pada orang-orang tertentu dengan berbagai kemudahan khusus.
§  Memanfaatkan tokoh masyarakat pemberi pengaruh seperti ketua organisasi wanita, ketua kelas atau disc jockey setempat.
§  Memanfaatkan orang yang berpengaruh atau dapat dipercaya dalam iklan testimonial.
§  Membuat iklan yang memiliki “coservation value” yang tinggi.
§  Mengembangkan saluran getok ular referal untuk membangun bisnis.

§  Membuat forum elektronik. 

Memlih Saluran Komunikasi


Komunikator memilih saluran komunikasi yang efisien untuk menyampaikan pesanannya. Misalnya, pada umumnya detailer perusahaan farmasi jarang dapat meminta waktu lebih dari sepuluh menit atas kesibukkan seorang dokter. Presentasi mereka harus singkat, tajam, mengena, dan meyakinkan. Inilah yang menyebabkan kunjungan detailer menjadi sangat mahal. Industri farmasi tidak mau memperluas saluran komunikasinya pada jurnal kedokteran dalam bentuk iklan, mengirim direct mail yang berisi rekaman audio-video, membagi sampel gratis, dan juga telemarketing.


Namun, kecenderungan yang dilakukan adalah dengan mensponsori makan malam bersama kelompok spesialis. Hal inilah yang dirasakan detailer farmasi dapat lebih bermanfaat dengan harapan membangun preferensi dokter pada merk obat tertentu yang dipasarkannya. 

Sumber Pesan


Para ahli psikologi banyak mengamati perubahan respon individu sebagai akibat exposure terhadap stimuli. Mereka antara lain mengembangkan teori pembelajaran classical conditioning, yang memandang perilaku sebagai akibat asosiasi yang erat antara stimulus primer (misalnya sukses sosial) dan stimulus sekunder (merek pasta gigi, deodoran, atau sabun).
Stimulus sekunder dipasangkan dengan stimulus primer yang menimbulkan respon tertentu. Sebagai akibat pemasangan ini, terbentuklah sebuah asosiasi. Stimulus sekunder dapat memicu reaksi yang sama seperti stimulus pertama. Iklan efektif umumnya mengkaitkan dengan stimulus yang mampu menciptakan perasaan positif.
Contohnya adalah kampanye iklan paling sukses sekaligus paling lama ditayangkan dalam sejarah: kampanye koboi Marlboro. Meskipun banyak yang mungkin menolak iklan rokok itu, namun tidak akan ada yang membantah efektivitas kampanye itu. Asumsinya banyak orang menganggap koboi bisa mencerminkan daya kekuatan, kejantanan, dan rasa aman. Koboi berfungsi sebagai stimulus primer atau unconditioned  stimulus. Perasaan positif yang dipicu citra koboi adalah unconditioned response.
Selain koboi, pengiklan kerap memakai pemain film, penyanyi, pembalap, atau bintang olahraga sebagai endorser. Apa peran penting endorser? Menurut Rhenald Kasali, ketika banyak ditanya mengapa bersedia menjadi endorser pada dasarnya berhubungan dengan konsep brand personal, yaitu pemberian makna pada merk. Endorser terpercaya merupakan syarat mutlak dalam mengkomunikasikan produk dan proses yang terpercaya juga. Tugas pemasaran adalah mengangkat produk atau nama korporat dari sekedar komunitas – nonmerk, berharga murah, misal, bermargin tipis, harga bergantung hanya pada permintaan dan penawaran  menjadi sebuah merek. Merek pada dasarnya adalah kepercayaan. Dengan kepercayaan itu, konsumen berani membayar harga premium, member referensi, bahkan dapat lebih memaafkan apabila melakukan kesalahan.
Pesan yang dibawakan oleh sumber yang terkenal dan menarik umumnya menjaring perhatian dan  recall yang lebih tinggi. Karena itu banyak selebriti menjadi bintang iklan. Dari rangkuman dari berbagi penelitian yang dilakukan Angela Van der Lee dan Bass Van der Putte, ternyata merek yang memakai selebriti sebagai endorser lebih tinggi daya bujuknya ketimbang merek yang memakai  model iklan (cantik atau ganteng tetapi tidak terkenal), pakar, atau orang biasa sebagi endorser.
Paling tidak, keyakinan ini sejalan dengan temuan survei produsen kondom Durex. Dari 50.000 partisipan dari berbagai negara, sebagian besar mengaku pernah berfantasi ingin berhubungan seks dengan selebriti. Selain  itu, selebriti umumnya mampu menjadi magnet untuk menyedot pemirsa TV, hal yang tentunya menarik bagi pemasar yang ingin memasang iklan.
Selebriti akan lebih efekif bila mereka merupakan personifikasi atribut produk utama. Sayangnya, selebriti memiliki kredibilitas rendah bila dipaksa meng-endorse produk yang tidak terkait dengan profesinya. Demikian pula, selebriti tidak cocok untuk semua tipe pemirsa. Bagi pemirsa yang kritis atau memiliki keterlibatan tinggi dengan produk, pemakaian selebriti bisa membuat mereka bersikap negative terhadap produk. Apalagi bagi produk yang resiko kerugiannya besar, penggunaan selebriti bisa berpotensi merugikan konsumen.
Faktor-faktor apakah yang menentukan kredibilitas sumber? Terdapat tiga hal yang paling sering disinggung adalah faktor keahlian, dapat dipercaya, dan likability. Keahlian adalah pengetahuan komunikator dalam bidang tertentu sehingga dapat mendukung klaimnya. Kejujuran menyangkut seberapa jauh sumber dipersepsikan obyektif dan jujur. Teman biasanya lebih dipercaya ketimbang orang asing atau wiraniaga, dan orang yang tidak dibayar namun mendukung suatu produk yang umumnya lebih dipercaya ketimbang orang yang memang dibayar untuk itu. Likability mengacu pada seberapa menarik sumber dimata audiens. Sifat-sifat seperti keterusterangan, humoris, dan apa adanya membuat orang lebih disukai. Sumber yang paling tinggi kredibilitasnya adalah yang skornya tinggi dalam tiga hal tersebut.
Pada umumnya pendapat pakar mendukung penggunaan endorser selebritis, asalkan mempertimbangkan overshadowing effect. Jangan sampai bintang tersebut mendominasi, sehingga ujung-ujungnya yang lebih diingat malah si bintang iklan. Si endorser sendiri mungkin sudah memiliki merek tersendiri, sehingga recall iklan justru tertuju pada bintang iklan bukan pada benefit atau product proposition.
Apabila pengiklan berkeinginan menggunakan konsep classical conditioning untuk mempengaruhi konsumen, maka beberapa persyaratan harus dipenuhi.
McSweeney dan Bierly menyebutkan empat kondisi, yaitu :
1.      Tidak boleh ada stimuli lain yang mungkin menghalangi unconditioned stimulus.
2.      Unconditioned stimulus tersebut belum pernah diasosiasikan dengan merk atau kategori produk lain.
3.      Unconditioned stimulus itu jangan terlalu familiar dan mesti disajikan secara tunggal.
4.      Classical conditioning lebih efektif apabila conditioned stimulusnya baru.

Classical conditioning juga dapat diterapkan dalam pemasaran untuk membuat asosiasi antara sebuah produk dengan stimulus positif. Misalnya, Miller Lite Beer sering diiklankan selama event-event olahraga yang menggugah semangat. Berkat pemasangan terus-menerus antara produk dan event olahraga, akhirnya semangat yang dipicu oleh event olahraga tersebut terbawa pada Miller Lite. Asosiasi ini mempengaruhi orang untuk membeli merk tersebut setiap mereka berolahraga ataupun saat melihat event olahraga

Analisis Kepuasan Kerja


Menurut Handoko (2000 : 193), ada banyak faktor yang mempengaruhi prestasi kerja karyawan. Karyawan bekerja dengan produktif atau tidak, tergantung pada motivasi, kepuasan kerja, tingkat stress, kondisi fisik pekerjaan, sistem kompensasi, desain pekerjaan, dan aspek ekonomis, teknis, serta keperilakuan lainnya.

KEPUASAN KERJA

adalah keadaan emosional seseorang dimana terjadi ataupun tidak terjadi titik temu antara nilai balas jasa kerja dari organisasi dengan tingkat balas jasa yang memang diinginkan oleh anggota organisasi yang bersangkutan.
Kepuasan Kerja Dapat Tercapai karena Pekerjaan yang:
1.      Sesuai dengan bakat dan keahliannya.
2.      Memiliki fasilitas memadai.
3.      Memiliki informasi lengkap.
4.      Dipimpin oleh pemimpin yang mendorong pencapaian tujuan.
5.      Memberikan penghasilan yang memadai.
6.      Mempunyai tantangan untuk mengembangkan diri.
7.      Memberikan rasa aman dan tentram.
8.      Memberikan harapan masa depan.

VARIABEL KEPUASAN KERJA

a. Turn Over
Kepuasan kerja lebih tinggi dihubungkan dengan turn over pegawai yang rendah.
Sedangkan pegawai yang kurang puas biasanya, turn overnya lebih tinggi. b. Tingkat ketidakhadiran kerja (tingkat absensi)
Pegawai yang kurang puas biasanya tingkat kehadirannya rendah, dengan alasan yang tidak logis dan subjektif. c. Umur
Ada kecenderungan pegawai yang tua lebih merasa puas daripada pegawai yang berumur relatif lebih muda. Hal ini diasumsikan bahwa pegawai yang lebih tua lebih berpengalaman menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaannya. Sedangkan pegawai usia muda mempunyai harapan yang ideal tentang dunia kerja, sehingga apabila antara harapannya dengan realita kerja terdapat kesenjangan, dapat menyebabkan mereka menjadi tidak puas. d. Tingkat pekerjaan
Pegawai yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih tinggi cenderung menjadi lebih puas daripada pegawai yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih rendah. Pegawai yang tingkat pekerjaanya lebih tinggi menunjukkan kemampuan kerja yang baik dan aktif dalam mengemukakan ide dalam bekerja.

e. Ukuran organisasi perusahaan

Besar kecilnya suatu perusahaan berhubungan pula dengan koordinasi, komunikasi dan partisipasi pegawai. 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN KERJA

a.       Faktor psikologis : berkaitan dengan kondisi kejiwaan: minat, bakat, dan motivasi
b.      Faktor fisik : berkaitan dengan lingkungan fisik organisasi dan kondisi fisik karyawan

c.       Faktor financial : berkaitan dengan adanya jaminan kesejahteraan karyawan.  

Merancang pesan untuk Konsumen


1. Isi Pesan

Umumnya pada tahap ini manajemen mencarikan tema, appeal, gagasan atau tawaran penjualan yang khas (unique selling proposition). Tiga macam daya bujuk (appeal), yaitu:
a.       Appeal Rasional    : umumnya      langsung          menohok         pada    kepentingan konsumen.
b.      Appeal Emosional : lebih menggelitik emosi negative atau positif agar terjadi pembelian.
c.       Appeal Moral : daya bujuk moral lebih ditujukan pada apa yang menurut audiens benar dan pantas. Kerap dipakai untuk mengingatkan masyarakat untuk mendukung gerakan sosial.

2. Struktur Pesan

Selain bertumpu pada isi pesan, efektifitas komunikasi juga dipengaruhi oleh strukturnya. Komunikator sering kali menyodorkan kesimpulan bagi audiens dari pada mereka mengambil kesimpulan sendiri. Namun penelitian membuktikan bahwa iklan yang baik justru yang mengajukan pertanyaan (Mana Lagi Selain di McD?)

3. Format Pesan

            Iklan Cetak tentukan judul, teks iklan, ilustrasi dan warna
            Iklan di radio  Pilihlah kata-kata, kualitas suara dan vokalisasinya.

4. Stealth Marketing 

Yang dimaksud dengan stealth marketing atau pemasaran anti radar yaitu dimana konsumen dibuat tidak sadar sama sekali bahwa ia telah diperdaya pemasaran. Konsep pemasaran anti radar biasanya menggunakan cara komunikasi getok tular.

Selain murah biayanya strategi ini juga dianggap lebih tajam dan efektif. 

Benefit yang diinginkan konsumen


1. Analisis Citra

Citra atau image dapat didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan, gagasan dan kesan yang dianut seseorang tentang sebuah obyek.

2. Menentukan Tujuan Komunikasi

Tujuan utama komunikasi adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta mengingatkan audiens sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Secara rinci ketiga tujuan promosi itu dijabarkan sebagai berikut : a. Menginformasikan (informing) dapat berupa :
Ä  Menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk baru
Ä  Memperkenalkan cara pemakaian produk baru 
Ä  Menyampaikan perubahan harga
Ä  Meluruskan kesan yang keliru
b.      Mempengaruhi dan membujuk (persuating) untuk :
Ä  Membentuk pilihan merek
Ä  Mengalihkan pilihan ke merek tertentu
Ä  Mendorong pembeli untuk membeli
c.       Mengingatkan (remainding) dapat berupa :

Ä  Mengingatkan pembeli bahwa produk dibutuhkan dalam waktu dekat Ä Mengingatkan pembeli akan tempat-tempat outlet penjualan 

Stimuli Pemasaran dan Persepsi Konsumen


Dua jenis stimuli utama yang bisa mempengaruhi perilaku konsumen adalah stimuli pemasaran dan lingkungan. Kita akan mambatasi pembahasan pada stimuli pemasaran saja.
Stimuli pemasaran adalah semua bentuk komunikasi atau stimuli fisik yang dimaksudkan untuk mempengaruhi konsumen. Produk dan unsur-unsurnya, yaitu kemasan, isi, ciri-ciri fisik produk merupakan stimuli primer (intrinsik), sedangkan stimuli sekunder (ekstrinsik) adalah komunikasi yang dirancang untuk mempengaruhi perilaku konsumen (baik dalam bentuk kata-kata, gambar maupun pencitraan).

1. Ciri-Ciri Stimulus yang Mempengaruhi Persepsi Konsumen Ciri-ciri ini dapat dikategorikan menjadi : a. Unsur Indrawi :  
*    Warna,                *  Rasa ,                      *  Raba.
*    Bau,                                *  Bunyi, dan
b. Unsur struktural
Sejumlah temuan telah diterbitkan dalam beberapa penelitian tentang segmen struktural yang kemudian banyak diterapkan dalam iklan cetak. Misalnya :
Ä  Makin besar ukuran iklan, makin besar kemungkinannya diperhatikan.
Ä  Posisi 10 halaman terdepan majalah atau bagian atas halaman cetak lebih menarik perhatian.
Ä  Kontras, misalnya gambar produk dengan latar belakang putih cenderung lebih menarik perhatian.
Ä  Kebaruan juga mampu menarik perhatian.

2. Karakteristik Konsumen yang Mempengaruhi Persepsi


Dua karakteristik penting yang turut mempengaruhi persepsi konsumen terhadap stimuli adalah kemampuan konsumen membedakan stimuli dan kemampuan menggeneralisasi dari satu stimulus kepada stimulus yang lainnya. 

Menggunakan atau Memisahkan Segmen yang Berbeda


Karena pelanggan sangat berperan dalam atmosfer banyak jasa kontak tinggi, sebuah perusahaan harus berupaya menarik juga mempertahankan pelanggan dari segmen pasar yang paling sesuai. Manajer juga perlu memastikan bahwa calon pelanggan menyadari pakaian dan perilaku yang pantas. Contohnya jika Anda menjalankan usaha restoran untuk mahasiswa dengan pakaian santai, mungkin tidak bijaksana apabila Anda mencoba menarik orang-orang setengah baya yang berpakaian bisnis.

 Pada satu sisi, hotel yang berhasil dalam membina langganan untuk pelaku bisnis yang bepergian seharusnya mempertimbangkan bagaimana mereka akan bereaksi terhadap kehadiran sekelompok besar turis dalam paket liburan di lobi atau ruang makan. Pada sisi lain, beberapa usaha ritel, seperti kedai kopi, berupaya menarik canpuran pelanggan yang berbeda-beda. Keanekaragaman ini menjadi bagian dari kultur dan pekerjaan mereka sepanjang tingkah laku seseorang tidak menggangu yang lain.

Basis pelanggan yang seragam tidak selalu dimungkinkan atau bahkan diinginkan banyak perusahaan jasa. Dua atau lebih segmen pasar yang berbeda mungkin masing-masing akan sangat berperan penting dalam keberhasilan perusahaan, walaupun keduanya mungkin tidak akan berbaur dengan baik. Idealnya segmen-segmen yang berpotensi menimbukan konflik harus dipisahkan dari segi tempat dan waktu.

 Contoh pemisahan tempat meliputi pengaturan tepat duduk kabin penumpang pesawat kelas utama, kelas bisnis, dan kelas ekonomi (berdasarkan berapa banyak yang bersedia mereka bayar untuk jasa yang lebih tinggi); menempatkan peserta konvensi di lantai hotel yang berbeda dari tamu yang lain; dan menyediakan pintu masuk dan ruang transaksi yang berbeda bagi pelanggan bank yang mempunyai rekening besar untuk memberikan privasi yang lebih besar. Pemisahan pelanggan menurut waktu dapat dilakukan dengan penggunaan fasilitas jasa secara bergantian dan bukan secara bersama-sama oleh pelanggan dari segmen yang berbeda. Dengan cara ini tidak ada kelompok yang mengganggu kelompok lainnya.

Sebagaimana Anda mungkin tahu dari pengalaman Anda sendiri, cara pelanggan lain berperilaku dapat mempengaruhi kenikmatan Anda sendiri terhadap suatu jasa. Jika Anda menyukai musik klasik dan menghadiri konser simponi, Anda mengharapkan penonton yang lain tenang selama pertunjukkan, tidak berbicara atau batuk dengan keras. Di pihak lain penonton yang tenang akan sangat tidak mengenakkan selama konser rock atau pertandingan olahraga, di mana partisipasi penonton biasanya menambah kegembiraan. Tetapi ada garis yang jelas antara antusiasme dan perilaku yang merusak oleh para pendukung tim olahraga lawan

Segmentasi Pasar


Organisasi yang menjual ke pasar konsumen dan pasar industri mengakui bahwa mereka tidak dapat menarik semua pembeli di pasar tersebut, atau tidak dapat menarik pembeli dengan cara yang sama. Pembeli terlalu banyak, terlalu tersebar luas, dan terlalu bervariasi dalam kebutuhan dan kebiasaan membeli. Dan perusahaan yang berbeda amat bervariasi dalam kemampuannya untuk melayani segmen pasar yang berbeda. Daripada mencoba untuk bersaing di seluruh pasar, setiap perusahaan harus menentukan bagian pasar mana yang dapat dilayani dengan baik.

Menurut Philip Kotler (1997 : 235) kegiatan membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang terbedakan dengan kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran  terpisah disebut Segmentasi Pasar. Pasar terdiri dari pembeli, dan pembeli berbeda dalam satu atau lain cara. Mereka dapat berbeda dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap pembelian, dan praktek pembelian. Karena pembeli mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik, setiap pembeli secara potensial merupakan pasar terpisah. Kemudian secara ideal perusahaan merancang progaram pemasaran terpisah untuk setiap pembeli.

Dasar – dasar untuk membuat segmentasi pasar konsumen :
1.        Segmentasi geografik yaitu membagi pasar menjadi beberapa unit secara geografik seperti negara, provinsi, kota, atau kompleks perumahan.
2.        Segmentasi demografik yaitu membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur kehidupan keluarga, pendapatan pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan. Faktor demografik merupakan dasar paling populer untuk membuat segmen kelompok pelanggan, karena kebutuhan konsumen, keinginan, dan tingkat penggunaan sering kali amat dekat dengan variabel demografik. Alasan lain karena variabel demografik lebih mudah diukur ketimbang tipe variabel yang lain.
3.        Segmentasi psikografik yaitu membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada karakteristik kelas sosial, gaya hidup, atau kepribadian. Contohnya iklan rokok Surya 16 dengan slogan “Surya 16 cita rasa eksklusif” membidik segmen pasar eksekutif muda.

4.        Segmentasi tingkah laku yaitu mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan, atau reaksi mereka terhadap suatu produk. 

Pengertian Branding and Relationship Marketing


Brand is a name, symbol, design, or combination of them that identifies the good or service of a company” (Straub and Attner, 1994:391).
Straub dan Attner membagi brand menjadi :
a.       Nama (brand name) : bentuk kata, huruf, atau gabungan keduanya yang digunakan untuk memberikan ciri khas.
b.      Tanda (brand mark) : simbol atau design yang digunakan untuk memberikan ciri dan membedakannya.
c.       Karakter (trade character)  : simbol yang menunjukan kualitas manusia.
Tahap-tahap penting dalam promosi atau kampanye brand :
a.       Brand recognition : tahap pengenalan produk baru menjadi produk yang familiar di mata publik.
b.      Brand preference : dimana konsumen telah berpengalaman dengan produk yang ia pilih dari berbagai produk disekitarnya.
c.       Brand insistence : terjadi ketika konsumen mengambil keputusan bulat untuk mengkonsumsi suatu produk untuk kesekian kalinya.
d.      Lovely brand/Brand satisfy : dimana konsumen benar-benar puas terhadap pengalaman yang dialami berulang-ulang dari penggunaan satu atau beberapa produk dalam brand yang sama (tahap tertinggi).

Proses pengembangan pelanggan :


Suspect à Prospect à Pelanggan Berulang à Client à Member à Pembela à Partner
  Pelangan Coba-Coba

Gambar 1. 1. Struktur pengembangan pelanggan Keterangan:
a.       Suspect : semua orang yang mungkin membeli produk atau jasa mereka.
b.      Prospect : orang-orang yang mungkin punya minat kuat dan kemampuan untuk membeli produk. Disqualified prospect adalah meraka yang diabaikan pemasar karena faktor reputasi kreditnya atau mungkin dirasa tidak menguntungkan.
c.       Pelanggan berulang (repeat customer) : pelanggan coba-coba yang puas dengan produk mereka.
d.      Client : pelanggan yang diperlakukan secara khusus dan cermat oleh perusahaan.
e.       Member : disini perusahaan berinisiatif memulai sebuah program keanggotaan yang menawarkan seperangkat benefit pada pelanggan yang bergabung.
f.       Pembela : pelanggan yang secara antusias merekomendasikan perusahaan dan produk-produknya pada orang lain.
g.      Partner : dimana perusahaan dan pelanggan senantiasa bekerja sama secara aktif dalam posisi yang setara.


“Tak dapat disangkal lagi bahwa pemasaran merupakan salah satu kegiatan ”kunci” keberhasilan kegiatan usaha, sebab dengan strategi pemasaran yang tepat menjadi kunci suksesnya suatu produk barang dan jasa yang dihasilkan memasuki pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri.” 
Ir. Sanyoto Sastrowardoyo, Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM (1999-2004).

Relationship marketing adalah usaha untuk menjaga konsumen agar tetap puas atas produk yang kita tawarkan. Berikut ini adalah lima tingkatan dalam investasi pengembangan relationship, yaitu :
a.       Basic marketing : Wiraniaga sekedar menjual produk.
b.      Reactive marketing : Wiraniaga menjual produk dan mendorong konsumen untuk menghubungi mereka apabila ada komentar atau keluhan.
c.       Accountable marketing : Wiraniaga mengontak konsumen setelah transaksi dan mengecek apakah produk sudah sesuai harapan.
d.      Proactive marketing : Wiraniaga senantiasa menghubungi pelanggan dengan saran-saran cara penggunaan baru atau informasi produk baru.

e.       Partnership marketing : Perusahaan terus bekerja sama dengan pelanggan guna menemukan cara-cara untuk meningkatkan kinerja produk. 

Berita Tekno Terbaru

Berita Tekno Terbaru
it-jurnal.com

review Film Terbaik

Cloud Service Provider

About Us -|- Contact Us- | -Disclaimer-| -Daftar ISI